PT Tjandi Sewu Baru · Sejak 1920
Perkebunan dan agroindustri di Blitar.
PT Tjandi Sewu Baru mengelola komoditas perkebunan dan pengolahan hasil kebun di Penataran, Blitar.
Lihat perjalananDari kebun, untuk Anda
Perkembangan perusahaan, cerita komoditas, dan kegiatan terbaru.

Kegiatan & Event · 16/09/2026
Ikuti dokumentasi kegiatan perusahaan melalui unggahan Instagram PT Tjandi Sewu Baru.
Baca selengkapnya ↗
Kegiatan & Event · 16/09/2026
Dokumentasi eksternal kegiatan magang MBKM di PT Tjandi Sewu Baru, tersedia melalui YouTube.
Baca selengkapnya ↗
Wawasan Komoditas · 15/09/2026
Mengenal pengolahan hasil perkebunan melalui penyulingan minyak daun cengkeh.
Baca selengkapnya ↗Sejak 1920
PT Tjandi Sewu Baru merupakan perusahaan agroindustri nasional yang bergerak dalam bidang perkebunan, peternakan, industri hilir, dan pengembangan eco-park.
Berawal dari perkebunan kopi pada tahun 1920, perusahaan terus bertumbuh dengan mengelola komoditas secara produktif, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Komoditas
Beragam komoditas dikelola dengan pendekatan agronomi yang tepat, pemeliharaan berkelanjutan, dan pengolahan yang memberi nilai tambah.
Tebu merupakan salah satu komoditas unggulan perusahaan dengan nilai ekonomi tinggi dan peran penting dalam mendukung industri gula nasional.
Pada tahun 2025, luas areal panen mencapai kurang lebih 254,75 hektar dengan total produksi sekitar 140.731,35 kwintal. Pengelolaan menerapkan teknik budidaya modern, pemupukan berimbang, dan pengendalian hama terpadu.
Cengkeh dibudidayakan sebagai salah satu komoditas unggulan perkebunan. Arealnya mencapai kurang lebih 81,29 hektar dengan produksi cengkeh kering sekitar 4.838 kilogram per tahun.
Komoditas ini menjadi bahan penting bagi industri rempah, obat-obatan, dan rokok kretek. Kualitas dijaga melalui budidaya tepat, pemeliharaan rutin, serta pengelolaan pascapanen yang baik.
Daun cengkeh diolah menjadi minyak atsiri bernilai tinggi. Dari produksi daun sekitar 128.343 kilogram, perusahaan menghasilkan kurang lebih 1.409,67 kilogram minyak daun cengkeh.
Penyulingan menggunakan destilasi uap yang efisien untuk menghasilkan minyak dengan aroma khas dan kadar eugenol optimal bagi industri farmasi, kosmetik, dan aromaterapi.
Durian dikembangkan pada areal sekitar 17,74 hektar dengan produksi kurang lebih 192,2 kilogram per tahun.
Perawatan dilakukan secara terencana melalui pemilihan bibit unggul, pemupukan berimbang, serta pengendalian hama dan penyakit terpadu untuk menjaga rasa, aroma, dan tekstur buah.
Kelengkeng menjadi bagian dari diversifikasi komoditas dengan luas areal 7,84 hektar dan produksi sekitar 945,1 kilogram per tahun.
Pemangkasan teratur, pemupukan berimbang, serta pengendalian hama ramah lingkungan diterapkan untuk menjaga buah tetap manis, segar, dan berdaya saing.
Alpukat dikelola sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi pada areal sekitar 12,78 hektar dengan produksi kurang lebih 6.503 kilogram per tahun.
Budidaya menggunakan varietas unggul, irigasi efisien, dan pemupukan berimbang. Hasil panen dikenal memiliki daging buah tebal dan cita rasa yang baik.
Ubi jalar dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan dan diversifikasi hasil perkebunan. Areal 0,40 hektar menghasilkan kurang lebih 12.346 kilogram per tahun.
Teknik tanam, pemupukan, serta pengendalian gulma dan hama dilakukan secara terpadu untuk menghasilkan umbi seragam, bertekstur baik, dan bercita rasa manis.
Ketela pohon merupakan komoditas pangan strategis untuk kebutuhan pangan, pakan ternak, dan industri olahan. Areal sekitar 9,85 hektar menghasilkan sekitar 393.831 kilogram per tahun.
Pengelolaan mencakup pengolahan lahan, pemilihan bibit unggul, dan perawatan teratur untuk menghasilkan umbi berkualitas dan kaya karbohidrat.
Jeruk keprok dikembangkan sebagai komoditas hortikultura dengan prospek pasar menjanjikan. Luas areal sekitar 11,38 hektar menghasilkan kurang lebih 858,8 kilogram per tahun.
Pemangkasan, pemupukan seimbang, serta pengendalian hama ramah lingkungan dilakukan untuk menjaga rasa manis segar, kulit mulus, dan daya simpan buah.
Kopi merupakan bagian penting dari sejarah perusahaan dan tetap dibudidayakan pada areal sekitar 3,04 hektar.
Pemilihan bibit unggul, pemeliharaan teratur, serta proses panen dan pascapanen yang mengikuti standar mutu diarahkan untuk menghasilkan biji kopi dengan cita rasa khas dan berkarakter.
Nangka dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi komoditas. Areal sekitar 3,00 hektar menghasilkan kurang lebih 545,1 kilogram per tahun.
Pemangkasan cabang, pemupukan berimbang, dan pengendalian hama ramah lingkungan mendukung hasil buah yang manis, beraroma khas, dan bernilai jual.
Nanas dikelola melalui Kerja Sama Operasi pada areal kurang lebih 12,01 hektar dengan produksi sekitar 351.830 kilogram per tahun.
Teknik pertanian modern, varietas unggul, dan perawatan intensif diterapkan untuk menghasilkan buah berukuran seragam, manis segar, dan memiliki daya simpan yang baik.
Program kehutanan produktif mencakup sengon, balsa, jabon, jati, akasia, dan eucalyptus. Sengon menjadi komoditas utama dengan produksi sekitar 1.826,8 m³, sementara balsa menghasilkan sekitar 106,8 m³.
Tanaman kayu dikelola melalui pola tanam teratur, pemeliharaan rutin, dan pemanfaatan efisien untuk menyediakan bahan baku industri sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem serta nilai ekonomi lahan.

Dari panen hingga pengolahan
Hasil kebun tidak berhenti pada panen. PT Tjandi Sewu Baru mengembangkan pengolahan, pengeringan, dan penyulingan untuk meningkatkan mutu sekaligus nilai ekonomi komoditas.


Cerita Perjalanan
Di lereng Gunung Kelud, perjalanan PT Tjandi Sewu Baru tumbuh bersama perubahan zaman. Dari perkebunan kopi pada 1920-an hingga pengembangan agroindustri, setiap masa membawa babak baru dalam mengelola potensi tanah dan hasil kebun.
Di kawasan Penataran, Blitar, perjalanan perkebunan bermula di bawah kepemilikan NV. Anemaet yang berkedudukan di Amsterdam. Lahan dikelola melalui hak erfpacht dengan kopi sebagai tanaman utama. Dari bentang kebun inilah perjalanan panjang perusahaan tumbuh.
Kepemilikan perkebunan beralih kepada R. Soemardjo melalui Akta Notaris Anwar Mahajudin S.H. Nomor 28. Perusahaan kemudian memakai nama PT Tjandi Sewu Baru, dengan R. Soemardjo sebagai direktur. Kopi tetap menjadi komoditas utama pada masa awal kepemilikan baru.
Pada 30 Oktober 1974, R. Soemardjo menjalin kerja sama dengan Dharyono Kertosastro di bawah PT Margosuko Group. Pengelolaan perkebunan dijalankan oleh Dharyono hingga wafat pada 1993, kemudian diteruskan oleh Group Dekafindo di bawah Rizal D. Kertosastro.
Setelah melewati periode stagnasi, perkebunan berpindah kepemilikan pada 2002. Adam Rustam sebagai komisaris dan Dadang Mohammad sebagai direktur memulai pembenahan serta diversifikasi tanaman. Perjalanan ini menandai upaya membangun kembali usaha melalui potensi lahan yang lebih beragam.
Perusahaan melalui beberapa perubahan pengelolaan. Sejak 2004, Dr. Gunawan Sukarso M.Sc. menjabat sebagai direktur. Pada pertengahan 2011, Muhaimin Iqbal bersama mitra mengambil kepemilikan mayoritas; profil perusahaan mencatat PT Kelola Agro Sukses sebagai pemilik mayoritas dan pengelola sejak 2011.
Titik balik paling bersejarah di abad ke-21 terjadi pada tahun 2011. Seorang pakar agribisnis dan pengusaha nasional, Muhaimin Iqbal, resmi mengakuisisi saham mayoritas perusahaan. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tanggal 29 Oktober 2011, nakhoda baru resmi dimulai. Manajemen baru membawa perubahan visi yang radikal dari on-farm (hanya menanam) menuju integrated agroindustry (industri hilir terintegrasi): 1. Pabrik Atsiri (2012–2015): Perusahaan tidak lagi menjual komoditas mentah. Mereka mendirikan pabrik penyulingan minyak atsiri modern. Daun-daun cengkeh kering dari ribuan pohon cengkeh di kebun disuling menggunakan metode steam distillation (destilasi uap) menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi. 2. Rotasi Jagung untuk Tanah (2016–2018): Untuk memulihkan unsur hara, tanah perkebunan mulai ditanami jagung secara berkala. Komoditas ini sekaligus menjadi penopang utama perputaran uang (cash flow) harian perusahaan.
Ketika pandemi COVID-19 melanda dunia di tahun 2020, ketahanan pangan dan kesehatan menjadi sektor yang paling diburu. PT Tjandi Sewu Baru justru kokoh berdiri karena produk atsiri (bahan baku farmasi) dan pangan (jagung) mereka mengalami lonjakan permintaan yang stabil. Kini, PT Tjandi Sewu Baru terus melangkah maju dengan menerapkan prinsip keberlanjutan. Setiap tahun, seperti pada musim panen besar, seluruh manajemen dan pekerja adat secara rutin menyelenggarakan Tradisi Tasyakuran Petik Tebu. Kegiatan budaya ini menjadi simbol bahwa setelah lebih dari 100 tahun berlalu, perusahaan ini sukses memadukan harmoni kelestarian alam, kesejahteraan buruh lokal, dan modernisasi teknologi. Perjalanan berkembang melampaui satu komoditas. Tebu, cengkeh, tanaman pangan, hortikultura, dan kayu-kayuan menjadi bagian dari diversifikasi kebun. Pengeringan hasil panen dan penyulingan daun cengkeh menjadi minyak atsiri memperluas kegiatan ke industri hilir, menghubungkan budidaya dengan pengolahan.
Pengembangan perkebunan, peternakan, industri hilir, dan eco-park menjadi arah perjalanan berikutnya. PT Tjandi Sewu Baru membawa pengalaman panjang pengelolaan kebun untuk terus beradaptasi, menjaga kelestarian lingkungan, dan membangun kesejahteraan bersama.
Disarikan dari Profil Perusahaan PT Tjandi Sewu Baru.
Visi
Misi
Proaktif dan inovatif menghadapi perubahan.
Membangun kekuatan untuk memenuhi target bersama.
Mengutamakan kepentingan perusahaan dan kepedulian pada tim.
Kreatif, cepat, tangkas, dan bertanggung jawab.
Amanah, setia, transparan, dan terpercaya.
Struktur Organisasi
Kepemimpinan perusahaan terhubung dengan fungsi pendukung, pengelolaan tiga wilayah kebun, hortikultura, serta pabrik dan teknik.
Ikuti alur dari kiri ke kanan. Klik jabatan untuk membuka unit di bawahnya; geser untuk menjelajahi bagan.
Bingkai putus-putus mengikuti penanda pada bagan profil perusahaan.
Penataran · Nglegok · Blitar
Pacuh, Penataran, Kec. Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur 66181
Hubungi perusahaan